Piku,
gadis cilik yang tomboy dan ceria. Ia suka sekali bermain dan menjelajah. Piku
dan teman-temannya yang bernama Eka, Nia dan Riri sudah menemukan banyak tempat
bermain. Tetapi lapangan basket adalah tempat bermain kesukaan mereka. Setiap hari Sabtu dan
Minggu sore, mereka bermain basket. Dan
salah satu lapangan basket favorit mereka yaitu lapangan yaitu yang ada di dekat rumah Eka.
Sabtu sore ini, mereka berkumpul di
lapangan basket kesukaan mereka. Kali ini mereka ingin mencoba bermain tiga
lawan satu. Sebelum bermain, Piku melihat seorang anak laki-laki berdiri di
sebelah seekor anjingnya yang gagah. Ia seperti oran yang mengamati kegiatan Piku dan
kawan-kawan. Piku yang merasa terganggu bertanya pada Eka, temannya.
“Anak
yang mana sih ?” jawab Eka yang masih bingung
“Itu,
anak yang berdiri di sebelah anjingnya..” jawab Piku
“Oh
itu, ya aku sempet sih kenalan. Katanya ia baru pindah seminggu yang lalu.
Kenapa?” selidik Eka
“Heem..
menurutku ia mencurigakan, masa dari tadi ngliatin kita mulu.” Jawab Piku
“Beuh..
Ge er amat lu. Emang itu orang kan punya mata,
kan suka-suka
dia mau ngliat apa nggak” kata Eka asal.
“Beneran
he , aku nggak ge er. Cuma …”
Pembicaraan
mereka terputus oleh selaan Riri dan Nia
“Hey,
pada ngomongin apaan sih, kok seru amat ?” Tanya Nia
“Iya
nih , gak ngajak kita-kita lagi !” kata Riri memantapkan pernyataan Nia.
“Enggak
… Nggak penting kok. Hehe” jawab Piku berbohong
“Dasar
pelit …” balas Nia yang kesal karena tidak diberi tahu.
~Setelah mereka berbincang-bincang
mereka lanjutkan bermain basket~
Sehabis bermain basket, mereka hendak
makan bekal yang mereka bawa dari rumah. Tapi yang paling sering mereka bawa
yaitu roti isi dan segelas air mineral untuk menghilangkan rasa dahaga setelah
bermain basket.Saat Piku dan kawan-kawannya makan, si anak laki-laki misterius
itu masuk ke dalam rumahnya. Tak lama kemudian, ia keluar lagi. Ia tampak
membaca buku yang agak lusuh. Kelihatannya itu buku yang lama.
Piku
dan kawan-kawannya selesai makan bekal, saat mereka beres-beres bekal mereka,
anak laki-laki itu keluar dari serambi rumahnya. Ia berjalan menuju Piku dan
kawan-kawan.sambil membawa anjingnya yang gagah, tetapi tatapannya tetap
dingin. Ia berhenti di depan Piku. Piku terkejut, ia justru mengajak kawan-kawannya
untuk meninggalkan lapangan basket itu.
“Gimana
kalo kita, Lariiiii ..... !” teriak Piku
Nia,
Riri dan Eka yang sempat tidak mengerti maksud Piku sempat bingung, tapi mereka
malah ikutan lari.
~Setelah dirasa
cukup jauh dari orang misterius itu, Piku menghentikan langkahnya...~
“Pik
kenapa sih pake lari-lari segala?” Tanya Riri masih terengah-engah
“Iya
, Pik aneh kamu tuh.. Terus siapa anak yang tadi itu?” tambah Nia
“Maaf,
ya. Aku ngerasa ada yang aneh dari itu anak, jadi ya lari aja.” Jawab Piku.
“Heem..
bener juga kata mu. Aku liat tadi dia bawa anjing segala lagi, nanti kalo tuh
anjing ngegigit gimana?” jawab Nia
“Ya
, apa lagi tatapannya dingin baget. Hiiih serem.” Imbuh Riri
Tetapi,
anak laki-laki itu justru mengejar Piku dan kawan-kawan. Ia berdiri di depan
Piku.
Piku yang merasa
dari awal kegiatannya terganggu sudah
kehilangan kesabarannya.
“Heh
anak aneh, maksudmu apa sih? Mau ganggu kita hah? Dari tadi ngintai mulu. Apa
kita ini penjahat. Emang ga ada kerjaan lain apa ! Oh, ato kamu punya masalah
sama kita-kita? Ngomong aja langsung.” Kata Piku panjang lebar
Anak
laki-laki itu yang tadinya tatapannya sedingin es, malah tersenyum lalu tertawa
terbahak-bahak.
“Eh,
kamu piker aku lagi ngelawak apa !” kesal Piku
“Udah
Pik, sabar. Kasih dia kesempatan buat ngomong.” Kata Eka menenangkan.
“habis,
dia ngeselin..” jawab Piku mereda
Setelah anak
laki-laki itu tertawa, barulah ia memberikan sebuah buku yang ia bawa untuk Piku.
“Buku
apaan nih? Kok lusuh amat?” Tanya Piku
“Liat
aja sendiri.” Jawab si anak singkat.
“Ini
kan ...”
“Buku
album kenangan !” kata Nia
Piku
melihat foto teman-teman sekelasnya dulu. Ia mencocokkan wajah anak laki-laki
itu dengan salah satu teman yang dekat dengan Piku dan kawan-kawan.
“Oalaa..
Ternyata kamu I...” kata Piku sedikit terkejut
“Yap , aku Ico. Akhirnya kamu inget juga.” Katanya sambil
tersenyum
“Oh..
kamu Ico.. Apa ! Ico?” jawab Nia dan Riri yang kaget
“Ka,
kenapa kamu nggak bilang sih kalo dia ini Ico?”Tanya Piku pada Eka
“Kan kamu nggak Tanya
namanya, lagi pula mana aku tahu kalo itu dia Ico temen kita dulu.” Jawab Eka.
“Maafin aku ya Co, tadi
marah-marahin kamu.” Kata Piku pada Ico
“Ya
, ga papa kok.” Jawab Ico
“Lagian
kamu ngapai pake ngintai-ngintai segala. Emang kita ini penjahat apa?” celoteh
Piku
“Ya
ga papa sih, biar seru dong! Lagian tadi aku tuh belum yakin kalo itu kalian
yang dulu.” Jawab Ico
“Tapi
kenapa kamu kembali lagi Co?” Tanya Nia penasaran
“Sebenernya,
aku mau latihan buat olimpiade matematika minggu depan.” Jawab Ico
“Wah
kamu juga ikut ? Berarti kita akan bertanding siapa yang akan menang di
olimpiade itu.” Kata Nia senang
“Ya
udah, untuk mencairkan suasana, ayo kita bertanding lagi!” ajak Riri
“Oke
! tapi mainnya 4 lawan 1 ya !” kata Piku
“Eh
kalian curang, masa 4 lawan 1? Kan
nggak imbang” jawab Ico
“Itu
hukuman buat mu karena ngeselin tadi !” kata Piku balas dendam
“Dasar
kalian ini, masih sama kayak yang dulu.” Kata Ico
Akhirnya
mereka pun bermain dengan gembira.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar