Senin, 29 April 2013

Oalaa Ternyata ....


Piku, gadis cilik yang tomboy dan ceria. Ia suka sekali bermain dan menjelajah. Piku dan teman-temannya yang bernama Eka, Nia dan Riri sudah menemukan banyak tempat bermain. Tetapi lapangan basket adalah tempat bermain kesukaan mereka. Setiap hari Sabtu dan Minggu sore, mereka bermain basket. Dan salah satu lapangan basket favorit mereka yaitu lapangan yaitu yang ada di dekat rumah Eka.

            Sabtu sore ini, mereka berkumpul di lapangan basket kesukaan mereka. Kali ini mereka ingin mencoba bermain tiga lawan satu. Sebelum bermain, Piku melihat seorang anak laki-laki berdiri di sebelah seekor anjingnya yang gagah. Ia seperti oran yang mengamati kegiatan Piku dan kawan-kawan. Piku yang merasa terganggu bertanya pada Eka, temannya.

“Ka, kamu kenal anak itu?” Tanya Piku
“Anak yang mana sih ?” jawab Eka yang masih bingung
“Itu, anak yang berdiri di sebelah anjingnya..” jawab Piku
“Oh itu, ya aku sempet sih kenalan. Katanya ia baru pindah seminggu yang lalu. Kenapa?” selidik Eka
“Heem.. menurutku ia mencurigakan, masa dari tadi ngliatin kita mulu.” Jawab Piku
“Beuh.. Ge er amat lu. Emang itu orang kan punya mata, kan suka-suka dia mau ngliat apa nggak” kata Eka asal.
“Beneran he , aku nggak ge er. Cuma …”
Pembicaraan mereka terputus oleh selaan Riri dan Nia
“Hey, pada ngomongin apaan sih, kok seru amat ?” Tanya Nia
“Iya nih , gak ngajak kita-kita lagi !” kata Riri memantapkan pernyataan Nia.
“Enggak … Nggak penting kok. Hehe” jawab Piku berbohong
“Dasar pelit …” balas Nia yang kesal karena tidak diberi tahu.

~Setelah mereka berbincang-bincang mereka lanjutkan bermain basket~

            Sehabis bermain basket, mereka hendak makan bekal yang mereka bawa dari rumah. Tapi yang paling sering mereka bawa yaitu roti isi dan segelas air mineral untuk menghilangkan rasa dahaga setelah bermain basket.Saat Piku dan kawan-kawannya makan, si anak laki-laki misterius itu masuk ke dalam rumahnya. Tak lama kemudian, ia keluar lagi. Ia tampak membaca buku yang agak lusuh. Kelihatannya itu buku yang lama.



Piku dan kawan-kawannya selesai makan bekal, saat mereka beres-beres bekal mereka, anak laki-laki itu keluar dari serambi rumahnya. Ia berjalan menuju Piku dan kawan-kawan.sambil membawa anjingnya yang gagah, tetapi tatapannya tetap dingin. Ia berhenti di depan Piku. Piku terkejut, ia justru mengajak kawan-kawannya untuk meninggalkan lapangan basket itu.
“Gimana kalo kita, Lariiiii ..... !” teriak Piku
Nia, Riri dan Eka yang sempat tidak mengerti maksud Piku sempat bingung, tapi mereka malah ikutan lari.

~Setelah dirasa cukup jauh dari orang misterius itu, Piku menghentikan langkahnya...~

“Pik kenapa sih pake lari-lari segala?” Tanya Riri masih terengah-engah
“Iya , Pik aneh kamu tuh.. Terus siapa anak yang tadi itu?” tambah Nia
“Maaf, ya. Aku ngerasa ada yang aneh dari itu anak, jadi ya lari aja.” Jawab Piku.
“Heem.. bener juga kata mu. Aku liat tadi dia bawa anjing segala lagi, nanti kalo tuh anjing ngegigit gimana?” jawab Nia
“Ya , apa lagi tatapannya dingin baget. Hiiih serem.” Imbuh Riri
Tetapi, anak laki-laki itu justru mengejar Piku dan kawan-kawan. Ia berdiri di depan Piku.

Piku yang merasa dari awal kegiatannya terganggu  sudah kehilangan kesabarannya.

“Heh anak aneh, maksudmu apa sih? Mau ganggu kita hah? Dari tadi ngintai mulu. Apa kita ini penjahat. Emang ga ada kerjaan lain apa ! Oh, ato kamu punya masalah sama kita-kita? Ngomong aja langsung.” Kata Piku panjang lebar
Anak laki-laki itu yang tadinya tatapannya sedingin es, malah tersenyum lalu tertawa terbahak-bahak.
“Eh, kamu piker aku lagi ngelawak apa !” kesal Piku
“Udah Pik, sabar. Kasih dia kesempatan buat ngomong.” Kata Eka menenangkan.
“habis, dia ngeselin..” jawab Piku mereda

Setelah anak laki-laki itu tertawa, barulah ia memberikan sebuah buku yang ia bawa untuk Piku.

“Buku apaan nih? Kok lusuh amat?” Tanya Piku
“Liat aja sendiri.” Jawab si anak singkat.
“Ini kan...”
“Buku album kenangan !” kata Nia
Piku melihat foto teman-teman sekelasnya dulu. Ia mencocokkan wajah anak laki-laki itu dengan salah satu teman yang dekat dengan Piku dan kawan-kawan.
“Oalaa.. Ternyata kamu I...” kata Piku sedikit terkejut
Yap, aku Ico. Akhirnya kamu inget juga.” Katanya sambil tersenyum

“Oh.. kamu Ico.. Apa ! Ico?” jawab Nia dan Riri yang kaget
“Ka, kenapa kamu nggak bilang sih kalo dia ini Ico?”Tanya Piku pada Eka
Kan kamu nggak Tanya namanya, lagi pula mana aku tahu kalo itu dia Ico temen kita dulu.” Jawab Eka.

            “Maafin aku ya Co, tadi marah-marahin kamu.” Kata Piku pada Ico
“Ya , ga papa kok.” Jawab Ico
“Lagian kamu ngapai pake ngintai-ngintai segala. Emang kita ini penjahat apa?” celoteh Piku
“Ya ga papa sih, biar seru dong! Lagian tadi aku tuh belum yakin kalo itu kalian yang dulu.” Jawab Ico
“Tapi kenapa kamu kembali lagi Co?” Tanya Nia penasaran
“Sebenernya, aku mau latihan buat olimpiade matematika minggu depan.” Jawab Ico
“Wah kamu juga ikut ? Berarti kita akan bertanding siapa yang akan menang di olimpiade itu.” Kata Nia senang
“Ya udah, untuk mencairkan suasana, ayo kita bertanding lagi!” ajak Riri
“Oke ! tapi mainnya 4 lawan 1 ya !” kata Piku
“Eh kalian curang, masa 4 lawan 1? Kan nggak imbang” jawab Ico
“Itu hukuman buat mu karena ngeselin tadi !” kata Piku balas dendam
“Dasar kalian ini, masih sama kayak yang dulu.” Kata Ico
Akhirnya mereka pun bermain dengan gembira.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar